hai, gadis
sudah seribu tahun rasanya
kangen teragi tanpa kata tanpa bicara
coba saja kau bernyanyi di telingaku
hati beku kan ceria
suatu hari . . .
sunguh teganya kau gadis
tak ada kabar ibumu tiada
temanku beri kabar duka
tentang ibumu
; tak adakah aku di hatimu? tak adakah aku di hatimu?
esoknya . . .
ku layat bersama temanku semua
tak sepatahpun ku harus berkata
bertemu kau gadis ku tak kuasa
kurasa beribu duka lara dihatimu mengadu padaku
ku terdiam dan kutundukan kepala
menangis, tak berair
teriak, tak bersuara
terdiam, tak diam
hanya teriakan ku memekikan
semua lentera di hatiku
sungguh membebaniku
sungguh membebaniku
sungguh membebaniku
sungguh membebaniku
ingin ku dekap kau gadis :
ku beri semua harap
ku jahit semua duka
ku balut semua lara
tasikmalaya, 21 januari 2008
Bung@ Desa
berubah
benci dan benci
dewasa aku tak ngerti
harusnya aku tak begini
berubah . . . .
bingung . . . .
tapi harus ku entahlah
ingin ku tak karuanlah
seperti kau, bacalah
januari 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

